Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
DI Yogyakarta
»
Candi


Menelusuri Kemegahan Candi Jawi di Kaki Gunung Welirang

Foto: Candi Jawi bukan hanya menarik karena bentuknya yang elegan, tetapi juga karena nilai sejarah dan spiritual yang dikandungnya.
Warta Konsumen Indonesia

Pasuruan, Indonesianer.com — Candi Jawi terletak di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Situs bersejarah abad ke-13 peninggalan Kerajaan Singhasari ini berdiri tepat di kaki Gunung Welirang.

Di antara hamparan sawah dan perbukitan yang menghiasi Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berdiri sebuah candi yang menjadi salah satu peninggalan terpenting dari masa akhir Kerajaan Singhasari. Candi Jawi menjulang anggun di kaki Gunung Welirang dengan siluet ramping yang dapat terlihat dari kejauhan. Keindahan arsitekturnya yang unik, dipadukan dengan latar pegunungan yang megah, menjadikan candi ini sebagai salah satu monumen bersejarah paling memikat di Jawa Timur.

Candi Jawi bukan hanya menarik karena bentuknya yang elegan, tetapi juga karena nilai sejarah dan spiritual yang dikandungnya. Bangunan ini memiliki hubungan erat dengan Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Melalui Candi Jawi, jejak pemikiran keagamaan, kebijakan politik, dan perkembangan seni pada masa akhir Singhasari dapat dipelajari hingga saat ini.

Terletak di Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, candi ini berdiri pada jalur yang sejak dahulu menghubungkan wilayah pedalaman Jawa Timur dengan kawasan pesisir utara. Lokasinya yang berada di kaki gunung menciptakan suasana yang tenang dan sakral, sesuai dengan fungsi religius yang dimilikinya pada masa lalu.

Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis pada masa Majapahit, Candi Jawi disebut sebagai tempat pemujaan yang berkaitan dengan Raja Kertanegara. Keterangan tersebut menjadikan candi ini sebagai salah satu sumber penting untuk memahami warisan spiritual dan politik yang ditinggalkan oleh penguasa terakhir Singhasari sebelum runtuhnya kerajaan tersebut pada akhir abad ke-13.

Jejak Raja Kertanegara dan Sinkretisme Keagamaan Singhasari

Candi Jawi dibangun pada masa ketika Kerajaan Singhasari berada pada puncak pengaruhnya di bawah pemerintahan Kertanegara. Raja ini dikenal sebagai penguasa yang memiliki visi luas mengenai posisi Jawa dalam jaringan politik dan perdagangan Nusantara. Ia juga dikenal karena pendekatan keagamaannya yang unik dan relatif terbuka.

Pada masa Kertanegara, berkembang konsep sinkretisme antara Hindu Siwa dan Buddha yang menjadi salah satu ciri khas kehidupan spiritual Jawa Timur. Alih-alih memisahkan kedua tradisi tersebut secara tegas, masyarakat dan elite kerajaan pada masa itu cenderung memandang keduanya sebagai jalan yang saling melengkapi menuju tujuan spiritual yang sama.

Candi Jawi dianggap sebagai salah satu representasi paling jelas dari konsep tersebut. Dalam sumber sejarah, bangunan ini dikaitkan dengan penghormatan terhadap Kertanegara setelah wafatnya. Raja tersebut dipuja dalam bentuk yang menggabungkan unsur-unsur Siwa dan Buddha, mencerminkan pandangan keagamaan yang berkembang pada masa akhir Singhasari.

Keberadaan candi ini juga memperlihatkan bagaimana agama dan politik saling berkaitan dalam kerajaan Hindu-Buddha Nusantara. Sebagai tempat suci yang berhubungan dengan raja, Candi Jawi berfungsi tidak hanya sebagai pusat ritual keagamaan, tetapi juga sebagai simbol legitimasi dan penghormatan terhadap penguasa yang dianggap memiliki kedudukan istimewa dalam tatanan kosmis.

Dalam perjalanan sejarahnya, Candi Jawi sempat mengalami kerusakan akibat berbagai faktor alam dan usia. Namun sebagian besar struktur utamanya masih bertahan, memungkinkan generasi modern untuk melihat secara langsung salah satu karya arsitektur terbaik dari masa Singhasari.

Keberadaan candi ini juga menjadi pengingat akan masa-masa terakhir Kerajaan Singhasari sebelum munculnya Majapahit. Setelah wafatnya Kertanegara dan runtuhnya Singhasari akibat serangan Jayakatwang pada tahun 1292, banyak warisan budaya dan politik kerajaan tersebut yang kemudian diteruskan oleh Majapahit. Candi Jawi menjadi salah satu bukti nyata kesinambungan sejarah tersebut.

Arsitektur Menjulang dan Keindahan yang Memikat

Salah satu hal yang paling mencolok dari Candi Jawi adalah bentuk bangunannya yang tinggi dan ramping. Dengan tinggi sekitar 24 meter, candi ini tampak menjulang di tengah dataran sekitarnya. Proporsi vertikal yang kuat menciptakan kesan anggun sekaligus monumental, menjadikannya berbeda dari banyak candi lain di Jawa Timur.

Bangunan candi terbuat dari kombinasi batu andesit pada bagian bawah dan batu putih pada bagian atas. Perpaduan material ini menciptakan tampilan visual yang unik dan menjadi salah satu karakteristik khas Candi Jawi. Penggunaan dua jenis batu tersebut juga menunjukkan tingkat perencanaan dan keterampilan konstruksi yang tinggi pada masa pembangunannya.

Bentuk arsitektur candi mencerminkan gaya Jawa Timur yang berkembang pada abad ke-13. Kaki candi berbentuk relatif sederhana, sementara tubuh dan atapnya dirancang dengan detail yang lebih kompleks. Keseluruhan struktur memberikan kesan menjulang ke langit, seolah melambangkan perjalanan spiritual dari dunia manusia menuju alam yang lebih tinggi.

Di beberapa bagian bangunan masih dapat ditemukan ornamen dan relief yang memperlihatkan kualitas seni pahat masa Singhasari. Meskipun tidak sebanyak relief pada Candi Jago atau Penataran, detail-detail yang tersisa menunjukkan kemampuan artistik yang sangat baik. Setiap elemen dekoratif dirancang untuk mendukung fungsi religius dan simbolis bangunan.

Lingkungan sekitar candi turut memperkuat daya tariknya. Dari kawasan ini, pemandangan Gunung Welirang dan Gunung Arjuno menciptakan latar alam yang menakjubkan. Dalam tradisi Jawa Kuno, gunung memiliki makna sakral sebagai tempat bersemayam para dewa dan leluhur. Oleh karena itu, lokasi Candi Jawi di kaki pegunungan bukanlah pilihan yang kebetulan, melainkan bagian dari konsep kosmologis yang mendasari pembangunannya.

Selain nilai sejarah dan arsitektur, Candi Jawi juga memiliki nilai penting bagi dunia arkeologi. Melalui penelitian terhadap bangunan ini, para ahli memperoleh informasi mengenai perkembangan teknik konstruksi, kehidupan keagamaan, dan hubungan budaya pada masa Singhasari. Setiap detail bangunan menjadi petunjuk yang membantu memahami salah satu periode paling penting dalam sejarah Jawa Timur.

Saat ini, Candi Jawi menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Pasuruan. Pengunjung datang tidak hanya untuk menikmati keindahan arsitekturnya, tetapi juga untuk merasakan suasana tenang yang masih terasa di sekitar situs. Kombinasi antara warisan budaya dan keindahan alam menjadikan pengalaman berkunjung ke Candi Jawi sangat berkesan.

Sebagai peninggalan Kerajaan Singhasari, Candi Jawi memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Indonesia. Bangunan ini memperlihatkan bagaimana seni, agama, dan kekuasaan berpadu dalam satu karya monumental yang mampu bertahan selama lebih dari tujuh abad. Ia menjadi pengingat akan masa ketika Jawa Timur menjadi pusat perkembangan budaya yang berpengaruh di Nusantara.

Candi Jawi pada akhirnya bukan hanya sebuah bangunan kuno di kaki Gunung Welirang. Ia adalah simbol kejayaan peradaban Singhasari, monumen penghormatan kepada Raja Kertanegara, dan bukti kecanggihan arsitektur Jawa abad ke-13. Di tengah perubahan zaman, candi ini tetap berdiri anggun, menjaga kisah tentang salah satu babak paling penting dalam sejarah Nusantara.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua