Setelah menguasai kawasan Lohayong, VOC membangun kembali benteng dengan struktur yang lebih sesuai dengan kebutuhan militer mereka. Benteng baru tersebut kemudian diberi nama Fort Henricus sebagai penghormatan kepada Pangeran Hendrik dari Belanda. Nama inilah yang kemudian dikenal dalam berbagai catatan sejarah kolonial, meskipun masyarakat setempat tetap lebih akrab menyebutnya sebagai Benteng Lohayong sesuai nama wilayah tempat benteng itu berada.
Selama berada di bawah kendali VOC, Fort Henricus menjadi salah satu pusat pertahanan penting untuk mengawasi jalur pelayaran menuju Flores, Lembata, Alor, hingga Timor. Dari benteng ini, Belanda dapat memantau aktivitas kapal dagang sekaligus mempertahankan pengaruhnya terhadap perdagangan cendana yang menjadi komoditas utama saat itu.
Secara arsitektur, Fort Henricus mengadopsi gaya benteng militer khas Eropa abad ke-17. Dinding batu yang tebal dibangun menggunakan batu karang dan batu alam yang tersedia di sekitar Pulau Solor. Material tersebut dipadukan dengan kapur sebagai perekat sehingga menghasilkan konstruksi yang mampu bertahan menghadapi cuaca pesisir yang keras.
Benteng memiliki denah yang relatif sederhana tetapi efektif untuk pertahanan. Pada beberapa sudut terdapat bastion atau menara pengawas yang memungkinkan prajurit mengawasi pergerakan kapal dari berbagai arah. Posisi benteng yang menghadap laut memberikan keuntungan strategis karena musuh dapat dideteksi sejak masih berada di kejauhan.
Di dalam kompleks benteng dahulu terdapat berbagai bangunan pendukung seperti barak prajurit, gudang logistik, ruang penyimpanan senjata, kantor administrasi, serta area tempat tinggal pejabat VOC. Sebagian besar bangunan tersebut kini sudah tidak utuh lagi akibat usia, gempa bumi, perubahan fungsi kawasan, serta pengaruh cuaca tropis selama ratusan tahun.
Walaupun demikian, struktur utama benteng masih memperlihatkan kekuatan teknik konstruksi kolonial pada zamannya. Dinding-dinding batu yang tersisa menghadirkan suasana historis yang kuat sehingga pengunjung dapat membayangkan bagaimana kehidupan para serdadu, pedagang, dan masyarakat lokal pada masa lalu.
Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera
05 Jul 2026, 16:51 WIB
Fauna
05 Jul 2026, 12:32 WIB
Flora
29 Jun 2026, 15:38 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:37 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:36 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:32 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:31 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:29 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Geoheritage
26 Jun 2026, 11:34 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 9:10 WIB
Tradisi
26 Jun 2026, 8:42 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB