Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Purbakala
»
Detail Berita


Ngandong, Situs Homo Erectus Akhir di Tepian Bengawan Solo

Foto: Ngandong menyimpan salah satu kisah paling penting dalam sejarah evolusi manusia di dunia.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Temuan ini segera menarik perhatian dunia ilmiah internasional. Sebelumnya, Homo erectus telah dikenal melalui penemuan di Trinil oleh Eugene Dubois pada akhir abad ke-19. Namun fosil Ngandong menghadirkan informasi baru yang sangat penting karena menunjukkan bentuk Homo erectus yang relatif lebih muda dibandingkan temuan-temuan sebelumnya.

Para ilmuwan kemudian berupaya menentukan usia fosil-fosil tersebut. Proses ini tidak mudah karena kondisi geologi situs yang kompleks membuat berbagai metode penanggalan menghasilkan angka yang berbeda-beda. Selama puluhan tahun, usia Homo erectus Ngandong menjadi bahan perdebatan ilmiah.

Sejumlah penelitian modern yang melibatkan berbagai teknik penanggalan akhirnya memberikan gambaran yang lebih jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fosil-fosil Homo erectus dari Ngandong kemungkinan berasal dari periode sekitar 117.000 hingga 108.000 tahun yang lalu. Temuan ini menjadikan Ngandong sebagai salah satu lokasi terakhir tempat Homo erectus diketahui masih hidup.

Kesimpulan tersebut sangat penting dalam kajian evolusi manusia. Selama bertahun-tahun para ilmuwan beranggapan bahwa Homo erectus telah punah jauh lebih awal. Namun bukti dari Ngandong menunjukkan bahwa spesies ini mampu bertahan sangat lama di Pulau Jawa, bahkan ketika berbagai kelompok manusia lain telah berkembang di wilayah lain dunia.

Lingkungan Ngandong pada masa itu sangat berbeda dibandingkan kondisi sekarang. Kawasan ini merupakan dataran sungai yang kaya air dengan vegetasi beragam. Berbagai hewan besar seperti gajah purba, kerbau purba, rusa, banteng liar, dan spesies mamalia besar lainnya hidup di sekitar Bengawan Solo. Ketersediaan sumber makanan yang melimpah diduga menjadi salah satu faktor yang memungkinkan Homo erectus bertahan dalam waktu yang sangat panjang.

Fosil-fosil hewan yang ditemukan bersama tengkorak manusia juga membantu para peneliti merekonstruksi kehidupan masa lalu. Dari data tersebut diketahui bahwa Homo erectus Ngandong hidup dalam lingkungan terbuka yang didominasi padang rumput dan kawasan berhutan di sekitar sungai. Mereka kemungkinan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia untuk berburu, mengumpulkan makanan, dan mempertahankan kehidupan sehari-hari.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Gamelan Indonesia Mendapat Tempat Istimewa di Museum Musik Arizona

Gamelan Indonesia Mendapat Tempat Istimewa di Museum Musik Arizona

Peristiwa

Rumoh Aceh, Identitas Arsitektur Tradisional Masyarakat Aceh

Rumoh Aceh, Identitas Arsitektur Tradisional Masyarakat Aceh

Rumah Adat

Siwaluh Jabu, Warisan Arsitektur Tradisional Karo yang Menyimpan Filosofi Kebersamaan

Siwaluh Jabu, Warisan Arsitektur Tradisional Karo yang Menyimpan Filosofi Kebersamaan

Rumah Adat

Rumah Bolon, Simbol Kebesaran dan Megahnya Budaya Batak Toba

Rumah Bolon, Simbol Kebesaran dan Megahnya Budaya Batak Toba

Rumah Adat

Rumah Gadang, Mahakarya Arsitektur Adat Tradisional Minangkabau

Rumah Gadang, Mahakarya Arsitektur Adat Tradisional Minangkabau

Rumah Adat

Pilihan Redaksi

Gua Metanduno dan Cap Tangan Purba yang Mengubah Sejarah Dunia

Gua Metanduno dan Cap Tangan Purba yang Mengubah Sejarah Dunia

Purbakala

Pemerintah Targetkan Seribu Cagar Budaya Nasional pada 2026

Pemerintah Targetkan Seribu Cagar Budaya Nasional pada 2026

Peristiwa

Inilah Daftar Geopark Indonesia yang Resmi Diakui UNESCO Tahun 2026

Inilah Daftar Geopark Indonesia yang Resmi Diakui UNESCO Tahun 2026

Peristiwa

House of Sampoerna Surabaya, Jejak Industri Kretek dan Sejarah Kota Pahlawan

House of Sampoerna Surabaya, Jejak Industri Kretek dan Sejarah Kota Pahlawan

Museum

Istana Kesultanan Serdang, Warisan Melayu yang Tetap Terjaga

Istana Kesultanan Serdang, Warisan Melayu yang Tetap Terjaga

Istana Nusantara

Baca Juga

Situs Kendenglembu, Jejak Awal Kehidupan Bercocok Tanam di Pulau Jawa

Situs Kendenglembu, Jejak Awal Kehidupan Bercocok Tanam di Pulau Jawa

Purbakala

Desa Wisata Taman Loang Baloq, Harmoni Wisata Religi dan Budaya Pesisir

Desa Wisata Taman Loang Baloq, Harmoni Wisata Religi dan Budaya Pesisir

Desa Wisata

Desa Wisata Senaru The Crown Of Lombok Pintu Gerbang Pesona Gunung Rinjani

Desa Wisata Senaru The Crown Of Lombok Pintu Gerbang Pesona Gunung Rinjani

Desa Wisata

Menyusuri Pesona Desa Wisata Namu, Permata Tersembunyi di Konawe Selatan

Menyusuri Pesona Desa Wisata Namu, Permata Tersembunyi di Konawe Selatan

Desa Wisata

Desa Wisata Taman Laut Olele, Menyelami Keindahan Surga Bawah Laut Gorontalo

Desa Wisata Taman Laut Olele, Menyelami Keindahan Surga Bawah Laut Gorontalo

Desa Wisata

Berita Lainnya

Festival Bakar Tongkang Bagansiapiapi, Tradisi Unik Komunitas Tionghoa Riau

Festival Bakar Tongkang Bagansiapiapi, Tradisi Unik Komunitas Tionghoa Riau

Festival Budaya

Keraton Jailolo, Mengungkap Kejayaan Kerajaan Tertua Halmahera

Keraton Jailolo, Mengungkap Kejayaan Kerajaan Tertua Halmahera

Istana Nusantara

Istana Kesultanan Bacan, Sejarah Panjang Kerajaan di Maluku Utara

Istana Kesultanan Bacan, Sejarah Panjang Kerajaan di Maluku Utara

Istana Nusantara

Desa Wisata Alam Lembah Bukit Semugang, Pesona Wisata Di Perbatasan

Desa Wisata Alam Lembah Bukit Semugang, Pesona Wisata Di Perbatasan

Desa Wisata

Menyusuri Keindahan Desa Wisata Jawai Laut, Permata Bahari Kabupaten Sambas

Menyusuri Keindahan Desa Wisata Jawai Laut, Permata Bahari Kabupaten Sambas

Desa Wisata

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua