Salah satu aktivitas yang paling diminati di Gunung Kelam adalah pendakian menuju puncak. Jalur pendakian telah dikembangkan sehingga relatif mudah diikuti oleh pengunjung yang memiliki kondisi fisik memadai. Pada bagian awal perjalanan, pengunjung akan melewati jalan setapak dan tangga beton yang berada di bawah rindangnya pepohonan hutan tropis. Suasana sejuk serta suara satwa liar menjadi teman sepanjang perjalanan.
Memasuki bagian tengah jalur, medan mulai berubah menjadi lebih menantang. Permukaan batu granit mulai mendominasi, sementara kemiringan jalur meningkat. Untuk membantu pendaki melewati bagian yang curam, tersedia tangga besi dan jalur pijakan yang dipasang pada beberapa titik. Kehadiran fasilitas tersebut membuat pendakian menjadi lebih aman dibandingkan harus memanjat langsung di atas permukaan batu yang licin ketika basah.
Perjalanan menuju puncak umumnya memerlukan waktu beberapa jam, bergantung pada kondisi fisik dan kecepatan masing-masing pendaki. Selama perjalanan, terdapat sejumlah titik yang memungkinkan pengunjung berhenti sejenak untuk menikmati panorama atau mengabadikan pemandangan.
Semakin mendekati puncak, bentangan alam Kalimantan Barat mulai terlihat semakin luas. Pada hari yang cerah, hamparan hutan tropis seolah tidak memiliki batas. Sungai-sungai besar yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tampak berkelok mengikuti kontur daratan. Pemandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa banyak fotografer alam datang ke Gunung Kelam.
Selain pendakian, kawasan Gunung Kelam juga menarik bagi pencinta fotografi lanskap, pengamat tumbuhan, hingga wisatawan yang sekadar ingin menikmati suasana alam. Tidak sedikit pengunjung memilih menikmati pemandangan dari kawasan kaki bukit tanpa harus mendaki hingga ke puncak. Dari area tersebut, bentuk monolit Gunung Kelam sudah terlihat sangat mengesankan, terutama ketika cahaya matahari pagi atau sore menyinari permukaan batu granit yang berwarna gelap.
Bagi masyarakat Sintang, Gunung Kelam memiliki arti lebih dari sekadar objek wisata. Bukit batu raksasa ini telah lama menjadi simbol daerah sekaligus bagian dari identitas lokal. Berbagai cerita rakyat berkembang di tengah masyarakat mengenai asal-usul terbentuknya Gunung Kelam. Legenda-legenda tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan budaya setempat. Meski demikian, kisah-kisah tersebut dipandang sebagai tradisi lisan dan tidak digunakan sebagai penjelasan ilmiah mengenai pembentukan bukit batu tersebut. Penelitian geologi menunjukkan bahwa Gunung Kelam merupakan hasil proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun.
Artikel ini telah ditayangkan di dengan judul Bukit Kelam di Sintang, Batu Raksasa yang Menjadi Ikon Alam Kalimantan Barat. Baca versi aslinya di sini.
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:51 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:50 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:47 WIB
Istana Nusantara
19 Jun 2026, 6:15 WIB
Istana Nusantara
19 Jun 2026, 6:12 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:54 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:53 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:52 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:51 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:50 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:13 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB