Di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berdiri sebuah bangunan bata merah yang menjadi salah satu ikon terpenting peninggalan Kerajaan Majapahit. Dikenal sebagai Candi Bajang Ratu, bangunan ini bukanlah candi dalam pengertian tempat pemujaan seperti Borobudur atau Prambanan, melainkan sebuah gapura monumental yang menjadi bagian dari kompleks bangunan pada masa Majapahit. Dengan bentuknya yang menjulang tinggi dan dihiasi relief-relief indah, Candi Bajang Ratu menjadi bukti kecanggihan arsitektur serta seni bangunan kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara tersebut.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Trowulan, Candi Bajang Ratu merupakan salah satu situs yang paling mudah dikenali. Bentuknya yang ramping dan tinggi menjadikan bangunan ini tampak megah meskipun telah berdiri selama lebih dari enam abad. Dibangun menggunakan bata merah, material yang menjadi ciri khas arsitektur Majapahit, gapura ini menunjukkan tingkat keterampilan konstruksi yang sangat tinggi pada zamannya.
Nama “Bajang Ratu” telah lama menarik perhatian para peneliti dan masyarakat. Dalam bahasa Jawa, istilah tersebut sering diartikan sebagai “raja muda” atau “raja yang masih belia”. Meski demikian, asal-usul nama tersebut masih menjadi bahan kajian para ahli. Yang pasti, bangunan ini memiliki hubungan erat dengan salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit, yaitu Raja Jayanegara, penguasa kedua kerajaan tersebut.
Sebagai bagian dari kawasan ibu kota Majapahit yang dahulu sangat luas, Candi Bajang Ratu menjadi saksi bisu masa ketika Trowulan berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan yang berpengaruh di Asia Tenggara. Keberadaannya membantu para sejarawan dan arkeolog memahami seperti apa kemegahan kota kerajaan yang pernah menjadi pusat kekuasaan Nusantara pada abad ke-14.
Hubungan Candi Bajang Ratu dengan Raja Jayanegara
Sebagian besar ahli sejarah mengaitkan Candi Bajang Ratu dengan Raja Jayanegara, putra sekaligus penerus pendiri Majapahit, Raden Wijaya. Jayanegara memerintah pada awal abad ke-14 dalam masa yang tidak mudah. Setelah wafatnya Raden Wijaya, kerajaan yang masih muda itu menghadapi berbagai pemberontakan dan tantangan politik yang mengancam stabilitas negara.
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
16 Jun 2026, 22:00 WIB
Geopark
16 Jun 2026, 17:43 WIB
Geosite
15 Jun 2026, 20:28 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Peristiwa
15 Jun 2026, 6:08 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:59 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:58 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:51 WIB
Festival Budaya
14 Jun 2026, 12:50 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:48 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:47 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:42 WIB