Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Jelajah
»
Detail Berita


Benteng Nieuw Victoria Ambon, Pusat Kekuasaan Kolonial di Tanah Rempah

Foto: Benteng Nieuw Victoria pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1575. Benteng peninggalan Portugis yang kemudian dikuasai Belanda ini pernah menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan kolonial di Maluku selama berabad-abad.
Pemasangan Iklan
Oleh : Puji Kriswindarti

Ambon, Indonesianer.com — Benteng Nieuw Victoria di Kota Ambon, Maluku, menjadi salah satu benteng kolonial paling penting dalam sejarah perdagangan rempah-rempah Nusantara. Benteng peninggalan Portugis yang kemudian dikuasai Belanda ini pernah menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan kolonial di Maluku selama berabad-abad.

Benteng Nieuw Victoria berdiri di pusat Kota Ambon dan hingga kini masih menjadi salah satu simbol sejarah penting di Provinsi Maluku. Benteng ini memiliki peran besar dalam perjalanan kolonialisme Eropa di Indonesia timur, terutama dalam perebutan dan penguasaan perdagangan cengkeh pada abad ke-16 hingga abad ke-19.

Lokasinya yang berada di pesisir Teluk Ambon membuat benteng tersebut sangat strategis sebagai pusat pengawasan pelayaran dan aktivitas perdagangan di kawasan Maluku. Dari benteng inilah bangsa Eropa mengendalikan jalur rempah-rempah yang pada masa itu menjadi komoditas paling berharga di dunia.

Sejarah Pendirian Benteng Nieuw Victoria

Benteng Nieuw Victoria pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1575 setelah mereka terusir dari Ternate oleh Sultan Baabullah. Portugis kemudian memindahkan pusat kekuatan mereka ke Ambon dan membangun benteng pertahanan baru di kawasan pesisir.

Pada awal pembangunannya, benteng tersebut dikenal dengan nama Nossa Senhora da Anunciada. Portugis menjadikan benteng ini sebagai pusat pertahanan sekaligus markas perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Kedatangan Portugis ke Maluku pada abad ke-16 dilatarbelakangi ambisi menguasai perdagangan rempah-rempah, terutama cengkeh yang sangat diminati pasar Eropa. Maluku yang menjadi penghasil utama cengkeh kemudian berkembang menjadi wilayah persaingan antarbangsa kolonial.

Pada awal abad ke-17, Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC berhasil merebut Ambon dari tangan Portugis. Setelah menguasai benteng tersebut, Belanda melakukan renovasi besar dan mengganti namanya menjadi Fort Nieuw Victoria atau Benteng Nieuw Victoria.

Di bawah kekuasaan VOC, benteng ini berkembang menjadi pusat administrasi kolonial Belanda di Maluku. Dari sinilah Belanda mengendalikan perdagangan rempah-rempah dan menjalankan kebijakan monopoli ekonomi terhadap masyarakat lokal.

Benteng Nieuw Victoria juga menjadi salah satu markas militer terkuat Belanda di kawasan timur Nusantara. Keberadaannya sangat penting dalam mempertahankan dominasi VOC atas perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Peran Strategis dalam Perdagangan Rempah

Pada masa kolonial, Ambon dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan cengkeh terbesar di dunia. Karena itu, Benteng Nieuw Victoria memiliki fungsi strategis dalam menjaga jalur perdagangan dan kepentingan ekonomi VOC.

Belanda menggunakan benteng ini sebagai pusat pengawasan terhadap produksi dan distribusi rempah-rempah. VOC menerapkan monopoli ketat terhadap perdagangan cengkeh agar harga komoditas tersebut tetap tinggi di pasar Eropa.

Dari Benteng Nieuw Victoria, pemerintah kolonial mengatur berbagai kebijakan perdagangan, termasuk pengawasan terhadap petani rempah-rempah di Maluku.

Benteng ini juga menjadi pusat militer untuk menghadapi ancaman dari bangsa Eropa lain seperti Inggris dan Spanyol, serta berbagai bentuk perlawanan masyarakat lokal terhadap kolonialisme.

Karena posisinya yang sangat penting, Benteng Nieuw Victoria pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan kolonial paling berpengaruh di Indonesia timur.

Bentuk dan Arsitektur Benteng

Benteng Nieuw Victoria memiliki bentuk arsitektur khas benteng kolonial Eropa dengan struktur pertahanan yang kokoh. Bangunannya dirancang untuk menghadapi serangan laut maupun darat.

Benteng ini dibangun menggunakan batu karang dan material lokal dengan dinding tebal serta bastion di beberapa sudut pertahanan. Di sekeliling benteng dahulu terdapat parit dan area pengamanan tambahan.

Kompleks benteng terdiri atas berbagai bangunan seperti barak prajurit, gudang senjata, kantor administrasi, ruang tahanan, dan tempat tinggal pejabat kolonial.

Karena menjadi pusat pemerintahan VOC di Maluku, ukuran Benteng Nieuw Victoria lebih besar dibanding beberapa benteng kolonial lain di kawasan tersebut.

Sebagian struktur asli benteng masih bertahan hingga sekarang meski telah mengalami berbagai renovasi dan perubahan fungsi selama ratusan tahun.

Saat ini kawasan Benteng Nieuw Victoria juga digunakan sebagai markas militer sehingga tidak seluruh area dapat diakses bebas oleh wisatawan.

Lokasi dan Rute Menuju Benteng Nieuw Victoria

Benteng Nieuw Victoria berada di pusat Kota Ambon, Provinsi Maluku, tepat di kawasan pesisir Teluk Ambon.

Lokasinya sangat mudah dijangkau karena berada tidak jauh dari pusat pemerintahan dan pelabuhan utama Kota Ambon. Dari Bandara Pattimura Ambon, perjalanan menuju benteng memerlukan waktu sekitar 30 hingga 45 menit menggunakan kendaraan.

Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun transportasi daring untuk mencapai lokasi benteng.

Karena berada di pusat kota, kawasan sekitar benteng dilengkapi berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan area wisata lainnya.

Benteng Nieuw Victoria juga dekat dengan sejumlah destinasi sejarah dan budaya di Ambon, sehingga sering menjadi bagian dari paket wisata sejarah di Maluku.

Dalam kajian historiografi, Benteng Nieuw Victoria memiliki posisi penting sebagai simbol kolonialisme dan perdagangan global di Nusantara.

Sejarawan melihat benteng ini sebagai pusat kekuasaan VOC di Maluku yang memainkan peran besar dalam sistem monopoli rempah-rempah dunia.

Melalui Benteng Nieuw Victoria, Belanda tidak hanya mengendalikan perdagangan, tetapi juga membangun struktur politik dan militer kolonial di wilayah timur Indonesia.

Historiografi benteng ini juga menunjukkan bagaimana Maluku menjadi salah satu pusat ekonomi dunia pada abad ke-16 dan ke-17. Rempah-rempah dari Maluku memiliki nilai sangat tinggi dan menjadi pemicu persaingan antarnegara Eropa.

Selain itu, benteng ini menjadi bukti bagaimana kolonialisme berkembang melalui perpaduan kekuatan militer dan kontrol ekonomi.

Dalam berbagai catatan sejarah, Ambon sering disebut sebagai salah satu kota kolonial tertua di Indonesia timur. Keberadaan Benteng Nieuw Victoria menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut.

Benteng ini juga merekam berbagai dinamika sosial dan politik di Maluku, mulai dari persaingan Portugis dan Belanda hingga perlawanan masyarakat lokal terhadap monopoli kolonial.

Saat ini Benteng Nieuw Victoria menjadi salah satu situs sejarah penting di Kota Ambon. Meski sebagian area masih digunakan untuk kepentingan militer, keberadaan benteng tetap menarik perhatian wisatawan dan peneliti sejarah.

Benteng ini menjadi pengingat bahwa Ambon pernah menjadi pusat perdagangan dunia yang sangat berpengaruh dalam sejarah global.

Pemerintah dan masyarakat Maluku terus mendorong pelestarian situs-situs sejarah kolonial sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan sejarah daerah.

Bagi wisatawan, Benteng Nieuw Victoria menawarkan pengalaman menelusuri jejak kolonialisme di tengah suasana Kota Ambon yang berkembang modern.

Benteng Nieuw Victoria bukan hanya bangunan tua peninggalan kolonial, tetapi simbol perjalanan panjang Maluku dalam sejarah perdagangan rempah-rempah dunia. Dari benteng di tepi Teluk Ambon itu, jejak perebutan kekuasaan, monopoli ekonomi, dan dinamika kolonial Nusantara masih dapat dirasakan hingga sekarang. (*)

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Prospek Lulusan dan Dunia Kerja, Menyiapkan Karier Mahasiswa di Era Kompetitif

Edukasi

Tips Memilih Program Studi Terbaik 2026, Panduan Lengkap untuk Calon Mahasiswa

Edukasi

10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi EduRank 2025

Edukasi

KEK Industropolis Batang, Kawasan Industri Manufaktur Modern yang Berkelanjutan

Ekonomi

KEK Edukasi, Teknologi dan Kesehatan, Pusat Pendidikan dan Inovasi Asia Tenggara

Ekonomi

Pemasangan Iklan

Pilihan Redaksi

KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam Miliki Fasilitas Medis Setara Singapura dan Malaysia

Ekonomi

KEK Likupang, Destinasi Wisata Maritim Unggulan Kelas Dunia di Sulawesi Utara

Ekonomi

KEK Tanjung Sauh Diproyeksikan Jadi Pusat Industri Elektronik Indonesia

Ekonomi

KEK Singhasari Fokus Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital dan Kultural

Ekonomi

KEK Batam Aero Technic Diproyeksikan Jadi Pusat Industri Aviasi di Asia Tenggara

Ekonomi

Pemasangan Iklan

Baca Juga

KEK Morotai, Motor Penggerak Industri Pariwisata dan Perikanan Indonesia Timur

Ekonomi

KEK Galang Batang Dikembangkan Sebagai Pusat Industri Pengolahan Bauksit

Ekonomi

KEK Arun Lhokseumawe Berpotensi Jadi Basis Pengembangan Industri Energi Nasional

Ekonomi

KEK Sei Mangkei, Pusat Hilirisasi Sawit dan Karet dengan Infrastruktur Modern

Ekonomi

Indonesia Pemimpin Dunia dalam Konservasi Biodiversitas melalui Proyek Enable dan Spare

Peristiwa

Pemasangan Iklan

Berita Lainnya

Dr. Teuku Syahrul Ansari, Akademisi, Praktisi Hukum dan Penggerak Business Judgement Rule di Indonesia

Inspirasi

KEK Nongsa Digital Park Batam, Pijakan Digital Bridge Indonesia di Asia Tenggara

Ekonomi

11 Pelabuhan Laut Era Jokowi Dorong Konektifitas Ekonomi Maritim Indonesia

Perspektif

Selama 10 Tahun Jokowi Bangun 53 Bendungan Perkuat Ketahanan Pangan dan Irigasi

Perspektif

Jalan Tol Warisan Jokowi Sepanjang 2.432 Km, Indonesia Makin Terhubung

Perspektif

Pemasangan Iklan
Eksplorasi
Lihat Semua