Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Maluku
»
Benteng Kolonial


Benteng Amsterdam Leihitu, Jejak VOC di Jalur Perdagangan Cengkeh Maluku

Foto: Benteng Amsterdam peninggalan Belanda berada di perbatasan antara negeri Hila dan negeri Kaitetu, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sekitar 42 km dari Kota Ambon.
Warta Konsumen Indonesia

Leihitu, Indonesianer.com — Benteng Amsterdam di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, menjadi salah satu peninggalan penting VOC di kawasan penghasil cengkeh Maluku. Benteng tua peninggalan Belanda ini merekam sejarah panjang monopoli rempah-rempah dan dominasi kolonial di wilayah pesisir utara Pulau Ambon.

Benteng Amsterdam merupakan salah satu situs sejarah kolonial yang berada di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Lokasinya berada di pesisir utara Pulau Ambon dan menghadap langsung ke Laut Seram, menjadikannya titik strategis dalam jalur perdagangan rempah-rempah pada masa kolonial.

Bangunan benteng ini menjadi bagian penting dari jaringan pertahanan dan pengawasan perdagangan cengkeh yang dibangun Belanda di Maluku. Selain sebagai benteng pertahanan, Benteng Amsterdam juga pernah menjadi pusat aktivitas dagang dan administrasi VOC di wilayah Leihitu.

Sejarah Pendirian Benteng Amsterdam

Sebelum menjadi Benteng Amsterdam, kawasan Hila terlebih dahulu digunakan Portugis sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Katolik pada abad ke-16. Portugis membangun loji atau pos dagang di wilayah tersebut karena Leihitu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil cengkeh berkualitas tinggi.

Namun, setelah Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC berhasil menguasai Ambon pada awal abad ke-17, kekuasaan Portugis di Hila mulai melemah. Belanda kemudian mengambil alih bangunan Portugis dan memperkuatnya menjadi benteng pertahanan.

Benteng Amsterdam mulai dibangun VOC sekitar tahun 1637 di atas bekas loji Portugis. Nama Amsterdam diambil dari nama kota penting di Belanda yang menjadi pusat perdagangan VOC pada masa itu.

Pembangunan benteng ini berkaitan erat dengan upaya VOC memperkuat monopoli perdagangan cengkeh di Maluku. Belanda ingin memastikan bahwa seluruh hasil rempah-rempah dari wilayah Leihitu hanya diperdagangkan melalui VOC.

Selain untuk kepentingan ekonomi, benteng tersebut juga digunakan untuk mengawasi pergerakan masyarakat lokal dan mencegah perdagangan rempah-rempah dengan pihak asing di luar kontrol Belanda.

Dalam sejarah Maluku, Leihitu dikenal sebagai wilayah yang cukup kuat melakukan perlawanan terhadap kolonialisme. Karena itu, keberadaan Benteng Amsterdam memiliki fungsi strategis sebagai pusat pertahanan VOC di pesisir utara Ambon.

Hubungan dengan Tokoh Sejarah Dunia

Benteng Amsterdam memiliki hubungan historis dengan naturalis terkenal asal Jerman, Georg Eberhard Rumphius. Ilmuwan yang dikenal sebagai ahli botani dan peneliti flora Maluku itu pernah tinggal dan bekerja di kawasan benteng pada abad ke-17.

Rumphius melakukan berbagai penelitian mengenai tanaman rempah-rempah dan kekayaan alam Maluku saat berada di Ambon. Hasil penelitiannya kemudian dikenal luas melalui karya monumental berjudul *Herbarium Amboinense*.

Keberadaan Rumphius membuat Benteng Amsterdam tidak hanya penting dalam sejarah kolonial dan perdagangan, tetapi juga dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia.

Bentuk dan Arsitektur Benteng

Benteng Amsterdam memiliki bentuk bangunan khas kolonial Belanda dengan struktur sederhana namun kokoh. Bangunan utama terdiri atas beberapa tingkat dengan dinding tebal dari batu karang dan batu alam.

Benteng ini memiliki menara pengawas yang digunakan untuk memantau aktivitas laut di sekitar pesisir Leihitu. Dari bagian atas benteng, pengunjung dapat melihat hamparan Laut Seram dan kawasan pantai di sekitarnya.

Kompleks benteng juga dilengkapi ruang penyimpanan logistik, area pertahanan, dan tempat tinggal pejabat kolonial. Arsitekturnya lebih menyerupai rumah pertahanan dibanding benteng militer besar seperti Benteng Victoria di Ambon.

Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian besar struktur Benteng Amsterdam masih berdiri cukup baik. Pemerintah telah melakukan beberapa kali pemugaran untuk menjaga kondisi bangunan tetap terawat.

Keunikan lain dari benteng ini adalah lokasinya yang berada di dekat permukiman masyarakat dan kawasan pantai, sehingga menghadirkan perpaduan antara wisata sejarah dan panorama alam.

Lokasi dan Rute Menuju Benteng Amsterdam

Benteng Amsterdam berada di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Ambon.

Untuk mencapai lokasi, wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Ambon menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalur darat menuju pesisir utara Pulau Ambon.

Perjalanan menuju Benteng Amsterdam memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam tergantung kondisi lalu lintas. Jalur menuju lokasi cukup baik dan menawarkan pemandangan pesisir serta perkampungan khas Maluku.

Benteng ini berada tidak jauh dari Masjid Tua Wapauwe, salah satu masjid tertua di Indonesia. Karena itu, wisatawan sering mengunjungi kedua situs sejarah tersebut dalam satu perjalanan wisata budaya.

Di sekitar kawasan benteng juga terdapat pantai dan beberapa tempat kuliner lokal yang menjual makanan khas Maluku.

Dalam perspektif historiografi, Benteng Amsterdam menjadi simbol penting monopoli perdagangan rempah-rempah yang dijalankan VOC di Maluku.

Benteng ini menunjukkan bagaimana Belanda membangun jaringan pertahanan dan administrasi untuk mengontrol produksi cengkeh di wilayah Ambon dan sekitarnya.

Sejarawan melihat keberadaan benteng-benteng VOC di Maluku bukan hanya sebagai fasilitas militer, tetapi juga instrumen ekonomi kolonial. Melalui benteng seperti Amsterdam, VOC dapat mengawasi distribusi rempah-rempah dan menjaga dominasi perdagangan dunia.

Benteng Amsterdam juga mencerminkan perubahan kekuasaan kolonial di Maluku dari Portugis ke Belanda. Pergantian itu menandai babak baru kolonialisme yang lebih terorganisasi melalui sistem perusahaan dagang VOC.

Dalam banyak kajian sejarah, Maluku dipandang sebagai pusat perdagangan global pada abad ke-16 hingga abad ke-18. Cengkeh dari Ambon dan sekitarnya menjadi komoditas bernilai tinggi yang memengaruhi ekonomi dunia.

Selain itu, keberadaan Rumphius di kawasan benteng menunjukkan bahwa kolonialisme juga berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian alam pada masa itu.

Historiografi Benteng Amsterdam memperlihatkan bahwa Maluku memiliki posisi penting dalam sejarah dunia, baik dalam perdagangan, kolonialisme, maupun ilmu pengetahuan.

Saat ini Benteng Amsterdam menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terkenal di Pulau Ambon. Banyak wisatawan datang untuk melihat bangunan kolonial sekaligus menikmati suasana pesisir Leihitu yang tenang.

Pemerintah daerah terus melakukan pelestarian terhadap benteng agar tetap menjadi warisan budaya dan sejarah Maluku.

Benteng ini juga sering menjadi lokasi kegiatan budaya, penelitian sejarah, dan kunjungan edukasi bagi pelajar maupun mahasiswa.

Bagi masyarakat Maluku, Benteng Amsterdam bukan hanya peninggalan kolonial, tetapi bagian dari perjalanan sejarah panjang daerah penghasil rempah-rempah dunia.

Dari benteng tua di pesisir Leihitu itu, tersimpan kisah tentang perdagangan cengkeh, dominasi VOC, dan dinamika sejarah Maluku yang pernah menjadi pusat perhatian dunia internasional. (*)

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

★★★★★

Sorotan


Menyelami Adat dan Budaya Bengkulu, Harmoni Tradisi dan Kehidupan Masyarakat

Menyelami Adat dan Budaya Bengkulu, Harmoni Tradisi dan Kehidupan Masyarakat

Tradisi 13 Jul 2026, 12:55 WIB

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Pilihan Redaksi

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Baca Juga

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Berita Lainnya

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua