Di bentang alam karst Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, tersimpan salah satu warisan prasejarah paling penting di dunia. Kawasan ini dipenuhi ratusan gua kapur yang selama puluhan ribu tahun menjadi tempat manusia purba beraktivitas, meninggalkan jejak berupa lukisan dinding, cap tangan, hingga berbagai tinggalan arkeologi yang kini menjadi kunci untuk memahami perjalanan awal manusia modern di kawasan Asia Tenggara.
Di antara banyak gua yang tersebar di kawasan tersebut, Leang Jarie memiliki posisi yang sangat istimewa. Gua ini mungkin tidak sepopuler beberapa situs prasejarah lain di Maros–Pangkep, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa Leang Jarie menyimpan salah satu karya seni cadas tertua yang pernah dibuat manusia. Penemuan tersebut semakin mengukuhkan Sulawesi sebagai salah satu pusat perkembangan seni prasejarah dunia, sekaligus mengubah cara pandang para ilmuwan mengenai asal-usul kemampuan artistik manusia.
Leang Jarie berada di kawasan karst Maros–Pangkep yang dikenal sebagai salah satu bentang alam karst terbesar dan terpenting di dunia. Selama jutaan tahun, proses geologi membentuk bukit-bukit kapur yang menjulang, lorong-lorong gua, sungai bawah tanah, dan ceruk alami yang kemudian dimanfaatkan manusia sejak zaman Pleistosen. Lingkungan seperti ini memberikan perlindungan dari cuaca sekaligus menyediakan sumber air, bahan pangan, dan ruang yang ideal untuk berbagai aktivitas manusia purba.
Keberadaan Leang Jarie menunjukkan bahwa kawasan Maros–Pangkep bukan sekadar tempat persinggahan sementara. Selama puluhan ribu tahun, wilayah ini menjadi ruang kehidupan yang memungkinkan berkembangnya budaya, kreativitas, dan kemampuan simbolik manusia. Berbagai penelitian arkeologi yang dilakukan di kawasan ini menemukan bukti bahwa manusia telah menghasilkan karya seni cadas jauh lebih awal daripada yang selama bertahun-tahun diasumsikan hanya berkembang di Eropa.
Nama Leang Jarie semakin dikenal setelah analisis ilmiah terhadap lukisan dinding gua menunjukkan usia yang sangat tua. Salah satu cap tangan yang terdapat di langit-langit gua berhasil ditentukan umurnya menggunakan penanggalan uranium-series pada lapisan mineral yang terbentuk di atas lukisan tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cap tangan itu berusia sedikitnya sekitar 17.000 tahun. Namun, penelitian lanjutan dengan teknik penanggalan yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sebagian cap tangan di Leang Jarie ternyata jauh lebih tua dan berasal dari masa sekitar 67.800 tahun yang lalu. Temuan tersebut menjadikannya sebagai karya seni cadas tertua yang telah diketahui hingga saat ini.
Temuan itu memiliki arti yang sangat besar. Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap bahwa perkembangan seni rupa manusia pertama kali berlangsung di Eropa. Namun berbagai penemuan di Sulawesi, termasuk di kawasan Maros–Pangkep, memperlihatkan bahwa kemampuan manusia untuk membuat karya seni simbolik ternyata juga berkembang sangat awal di Asia Tenggara. Fakta ini menunjukkan bahwa kreativitas bukanlah pencapaian yang hanya dimiliki satu wilayah tertentu, melainkan bagian dari perkembangan manusia modern yang terjadi di berbagai kawasan dunia.
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:51 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:50 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:47 WIB
Istana Nusantara
19 Jun 2026, 6:15 WIB
Istana Nusantara
19 Jun 2026, 6:12 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:54 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:53 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:52 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:51 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:50 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:13 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB