Di tengah kawasan bersejarah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terdapat sebuah situs yang memiliki bentuk sangat berbeda dibandingkan kebanyakan peninggalan Majapahit lainnya. Candi Tikus, demikian nama yang kini dikenal, merupakan kompleks pemandian kuno yang diperkirakan berasal dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Keunikan bentuknya yang menyerupai kolam bertingkat dengan struktur simetris menjadikannya salah satu temuan arkeologi paling menarik di Indonesia.
Berbeda dengan candi pada umumnya yang berbentuk bangunan menjulang, Candi Tikus justru berada di bawah permukaan tanah. Struktur ini berupa kolam pemandian dengan tangga turun di salah satu sisinya, lengkap dengan bangunan kecil menyerupai menara di bagian tengah. Penemuan situs ini sempat mengejutkan para peneliti karena tidak sesuai dengan gambaran umum candi Hindu-Buddha yang biasanya berdiri di atas tanah dan memiliki struktur vertikal.
Nama “Candi Tikus” sendiri berasal dari cerita masyarakat setempat ketika situs ini ditemukan kembali pada awal abad ke-20. Saat itu, area tersebut dilaporkan menjadi sarang tikus, sehingga masyarakat kemudian menyebutnya dengan nama tersebut. Namun, dalam konteks sejarah, fungsi asli bangunan ini jelas bukan berkaitan dengan tikus, melainkan sebagai bagian dari sistem air suci atau petirtaan kerajaan Majapahit.
Sebagai bagian dari kawasan Trowulan yang diyakini sebagai pusat ibu kota Majapahit, Candi Tikus memberikan gambaran penting mengenai sistem tata kota dan kehidupan masyarakat pada masa itu. Keberadaan pemandian ini menunjukkan bahwa Majapahit memiliki perhatian besar terhadap pengelolaan air, baik untuk kebutuhan ritual maupun kehidupan sehari-hari.
Petirtaan Suci dalam Kehidupan Majapahit
Candi Tikus diperkirakan berfungsi sebagai petirtaan, yaitu tempat pemandian suci yang memiliki makna ritual dalam tradisi Hindu-Buddha Jawa Kuno. Dalam konsep keagamaan pada masa itu, air dianggap sebagai elemen penting yang memiliki kekuatan penyucian. Oleh karena itu, tempat pemandian seperti ini tidak hanya digunakan untuk aktivitas fisik, tetapi juga untuk upacara spiritual.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB