Persiapan Barapen dimulai jauh sebelum proses memasak. Kaum laki-laki biasanya bertugas mencari batu yang kuat menahan panas, mengumpulkan kayu bakar, menggali lubang tanah, serta menyembelih hewan yang akan dimasak. Sementara itu, kaum perempuan menyiapkan sayur-mayur, membersihkan umbi-umbian, mengupas ubi jalar, memotong daun pembungkus, serta mengatur bahan makanan agar siap dimasukkan ke dalam susunan batu panas.
Batu yang digunakan bukan sembarang batu. Masyarakat adat telah memahami jenis batu yang tidak mudah pecah saat dipanaskan. Batu-batu tersebut disusun di atas tumpukan kayu, kemudian dibakar selama beberapa jam hingga mencapai suhu yang sangat tinggi. Ketika bara telah menyala sempurna dan batu berubah kemerahan karena panas, proses memasak pun dimulai.
Lubang yang telah disiapkan kemudian dilapisi daun-daunan sebagai alas. Batu panas diletakkan di dasar lubang, lalu disusun berbagai bahan makanan secara bertingkat. Biasanya dimulai dari ubi jalar, keladi, singkong, sayuran, jagung, lalu daging babi sebagai bahan utama dalam banyak upacara adat. Pada beberapa komunitas yang memiliki latar belakang budaya atau agama tertentu, daging babi dapat diganti dengan ayam, sapi, atau bahan pangan lain sesuai kebutuhan.
Setiap lapisan makanan kembali ditutup menggunakan daun-daunan dan batu panas. Proses tersebut dilakukan berulang hingga seluruh bahan tersusun rapi. Setelah itu semuanya ditutup rapat menggunakan daun, rumput, bahkan tanah agar panas tidak keluar sehingga makanan matang secara perlahan melalui uap alami.
Metode memasak ini menghasilkan cita rasa yang khas. Daging menjadi sangat empuk karena dimasak dalam waktu cukup lama, sementara umbi-umbian menyerap aroma alami dari daun dan panas batu. Tidak ada bumbu yang berlebihan, tetapi rasa asli setiap bahan justru menjadi lebih menonjol.
Selama menunggu makanan matang, masyarakat biasanya mengisi waktu dengan bernyanyi, menari, memainkan alat musik tradisional, atau berbincang bersama. Suasana inilah yang menjadi inti dari Barapen. Tradisi tersebut menghadirkan ruang interaksi yang memperkuat hubungan antarsesama warga.
Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB
Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB
Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB
Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB
Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB
Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB
Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB
Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB
Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB
Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB
Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB