Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Museum
»
Detail Berita


Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Menjaga Warisan Jiwa dan Budaya Jawa

Foto: Museum Sonobudoyo dikenal memiliki salah satu koleksi budaya Jawa paling lengkap di Indonesia setelah Museum Nasional di Jakarta.
Pemasangan Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Sejarah Museum Sonobudoyo berkaitan erat dengan gerakan intelektual dan kebudayaan pada awal abad ke-20. Akar pendiriannya dapat ditelusuri pada Java Instituut, lembaga yang didirikan di Surakarta pada 1919 untuk mempelajari dan melestarikan budaya Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

Pada Kongres Java Instituut tahun 1924 muncul gagasan membangun museum di Yogyakarta yang dapat menghimpun dan mempresentasikan kekayaan budaya dari berbagai wilayah tersebut. Gagasan itu berkembang melalui pengumpulan data budaya dan pembentukan panitia pendirian museum pada awal 1930-an.

Pembangunan museum dilakukan di atas tanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Bangunan museum dirancang oleh arsitek Thomas Karsten dengan pendekatan arsitektur Jawa yang memadukan bentuk joglo dan inspirasi dari Masjid Keraton Cirebon.

Museum Sonobudoyo kemudian diresmikan pada 6 November 1935 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Peresmian tersebut ditandai dengan candrasengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha,” simbol budaya Jawa yang menandai tahun pendirian museum.

Nama “Sonobudoyo” sendiri memiliki makna yang menarik. Dalam pemahaman bahasa Jawa, “sono” dapat dimaknai sebagai tempat, sementara “budoyo” berarti budaya. Dengan demikian, Sonobudoyo merepresentasikan gagasan tentang tempat bagi budaya untuk hidup dan dirawat.

Perjalanan museum tidak selalu berlangsung dalam situasi yang stabil. Pada masa pendudukan Jepang, pengelolaannya mengalami perubahan mengikuti struktur pemerintahan saat itu. Setelah Indonesia merdeka, museum kemudian berada di bawah pengelolaan pemerintah daerah dan akhirnya diserahkan kepada pemerintah pusat sebelum menjadi bagian dari pengelolaan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.



Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Pindang Patin Khas Palembang, Harmoni Asam Pedas dari Tepian Sungai Musi

Kuliner

Sate Lilit Bali dan Keunikan Teknik Memasak Tradisional Pulau Dewata

Kuliner

Nasi Goreng, Hidangan Rumahan yang Menjadi Ikon Kuliner Indonesia

Kuliner

Mie Aceh dan Pengaruh Jalur Perdagangan terhadap Kuliner Serambi Mekkah

Kuliner

Tinutuan Manado, Bubur Sehat dengan Jejak Budaya Khas Sulawesi Utara

Kuliner

Pemasangan Iklan

Pilihan Redaksi

Dr Agus Ujianto Kembali Dipercaya Nahkodai Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

Inspirasi

Taman Nasional Batang Gadis, Kawasan Pegunungan Menjaga Keanekaragaman Hayati

Eksplorasi

Taman Nasional Siberut, Hutan Tropis dengan Keanekaragaman Hayati Endemik

Eksplorasi

Taman Nasional Tesso Nilo Habitat Gajah Sumatra di Tengah Tekanan Deforestasi

Eksplorasi

Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Habitat Penting Orangutan Sumatra dan Satwa Langka

Eksplorasi

Pemasangan Iklan

Baca Juga

Taman Nasional Sembilang Kawasan Lahan Basah Penting yang Menjadi Habitat Burung Migran dan Penyangga Pesisir Sumatra

Eksplorasi

Taman Nasional Berbak, Kawasan Konservasi Penting di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Eksplorasi

Taman Nasional Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah dan Harapan Terakhir Satwa Liar Sumatra

Eksplorasi

Dari Rafflesia hingga Harimau, Pesona Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang Memikat

Eksplorasi

Taman Nasional Kerinci Seblat, Bentang Hutan Terluas yang Menyimpan Kehidupan Liar

Eksplorasi

Pemasangan Iklan

Berita Lainnya

Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra

Eksplorasi

Nuca Molas, Menyimpan Keajaiban Purba Indonesia Era Jurassic Park

Eksplorasi

Ayam Betutu Khas Bali, Kuliner Upacara dengan Cita Rasa Pedas Mendalam

Kuliner

Perguruan Tinggi Swasta Dituntut Lebih Agresif dan Inovatif Menarik Calon Mahasiswa Baru

Edukasi

Strategi Efektif Meningkatkan Omzet UMKM Lewat Advertorial Media Online

Ekonomi

Pemasangan Iklan
Eksplorasi
Lihat Semua