Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Rumah Adat
»
Detail Berita


Rumoh Aceh, Identitas Arsitektur Tradisional Masyarakat Aceh

Foto: Bentuknya yang berupa rumah panggung dengan struktur kayu yang kokoh menjadikannya mudah dikenali.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Pemilihan bentuk rumah panggung bukan tanpa alasan. Aceh memiliki wilayah yang dipengaruhi curah hujan tinggi dan sejumlah daerah yang rawan genangan. Dengan meninggikan bangunan dari permukaan tanah, masyarakat dapat melindungi rumah dari kelembapan, banjir, serta gangguan binatang liar. Selain itu, sirkulasi udara di bawah rumah membantu menjaga suhu ruangan tetap sejuk meskipun cuaca di luar cukup panas.

Material utama Rumoh Aceh berasal dari sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya. Kayu menjadi bahan utama untuk tiang, dinding, dan lantai, sementara atap tradisional umumnya menggunakan daun rumbia atau bahan alami lainnya. Penggunaan material lokal tidak hanya membuat rumah lebih mudah dibangun, tetapi juga memungkinkan bangunan beradaptasi dengan kondisi iklim tropis.

Salah satu keunikan Rumoh Aceh terletak pada orientasi bangunannya. Secara tradisional, rumah dibangun memanjang dari timur ke barat. Tata letak ini berkaitan dengan pandangan budaya dan nilai religius masyarakat Aceh. Bagian tertentu dari rumah memiliki posisi yang dianggap lebih sakral dibandingkan bagian lainnya, mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat.

Tangga utama yang menghubungkan tanah dengan rumah biasanya berada di bagian depan bangunan. Jumlah anak tangga umumnya dibuat ganjil, mengikuti tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tangga ini menjadi titik peralihan antara ruang luar dan ruang dalam, sekaligus simbol penghormatan bagi tamu yang datang berkunjung.

Di dalam Rumoh Aceh, pembagian ruang dilakukan secara teratur. Bagian depan biasanya berfungsi sebagai ruang penerima tamu dan tempat berkumpul. Ruangan ini sering digunakan untuk menerima kerabat, tetangga, atau tamu dari luar kampung. Bagian tengah menjadi area yang lebih privat, umumnya digunakan sebagai ruang keluarga dan kamar tidur. Sementara itu, bagian belakang berfungsi sebagai tempat aktivitas domestik seperti memasak dan menyiapkan kebutuhan rumah tangga.

Meski terlihat sederhana, tata ruang tersebut menunjukkan pemahaman mendalam mengenai hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pembagian area publik dan privat dilakukan dengan jelas sehingga aktivitas keluarga dapat berjalan dengan nyaman tanpa mengurangi penghormatan kepada tamu.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Istana Raja Bima Asi Mbojo, Simbol Kesultanan di Pulau Sumbawa

Istana Raja Bima Asi Mbojo, Simbol Kesultanan di Pulau Sumbawa

Istana Nusantara

Saoraja Lapinceng, Istana Kerajaan Bone yang Bersejarah

Saoraja Lapinceng, Istana Kerajaan Bone yang Bersejarah

Istana Nusantara

Istana Balla Lompoa, Pusat Kerajaan Gowa yang Sarat Tradisi

Istana Balla Lompoa, Pusat Kerajaan Gowa yang Sarat Tradisi

Istana Nusantara

Dalam Loka Sumbawa, Istana Kayu Terbesar Kebanggaan Nusa Tenggara Barat

Dalam Loka Sumbawa, Istana Kayu Terbesar Kebanggaan Nusa Tenggara Barat

Istana Nusantara

Keraton Surosowan Banten, Menelusuri Pusat Kekuasaan Kesultanan Banten

Keraton Surosowan Banten, Menelusuri Pusat Kekuasaan Kesultanan Banten

Istana Nusantara

Pilihan Redaksi

Keraton Kaibon Banten, Reruntuhan Istana yang Menyimpan Kisah Kesultanan

Keraton Kaibon Banten, Reruntuhan Istana yang Menyimpan Kisah Kesultanan

Istana Nusantara

Keraton Sumenep, Perpaduan Budaya Madura, Jawa, dan Eropa

Keraton Sumenep, Perpaduan Budaya Madura, Jawa, dan Eropa

Istana Nusantara

Festival Sandeq Polewali Mandar, Balapan Perahu Tradisional Sulawesi Barat

Festival Sandeq Polewali Mandar, Balapan Perahu Tradisional Sulawesi Barat

Festival Budaya

Festival Budaya Isen Mulang, Kebanggaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Festival Budaya Isen Mulang, Kebanggaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Festival Budaya

Festival Tanjung Kelayang, Melestarikan Budaya Bahari Pulau Belitung

Festival Tanjung Kelayang, Melestarikan Budaya Bahari Pulau Belitung

Festival Budaya

Baca Juga

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Tarian Kolosal di Tepi Selat Bali

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Tarian Kolosal di Tepi Selat Bali

Festival Budaya

Mengenang Letusan Bersejarah Gunung Krakatau yang Mengubah Dunia

Mengenang Letusan Bersejarah Gunung Krakatau yang Mengubah Dunia

Festival Budaya

Tomohon International Flower Festival, Karnaval Bunga dari Sulawesi Utara

Tomohon International Flower Festival, Karnaval Bunga dari Sulawesi Utara

Festival Budaya

Festival Tabut Bengkulu, Jejak Sejarah Islam dalam Tradisi Nusantara

Festival Tabut Bengkulu, Jejak Sejarah Islam dalam Tradisi Nusantara

Festival Budaya

Eksplorasi Geopark Gunung Sewu, Negeri Seribu Bukit Karst Nusantara

Eksplorasi Geopark Gunung Sewu, Negeri Seribu Bukit Karst Nusantara

Geopark

Berita Lainnya

Ciletuh Amphitheater, Warisan Geologi Purba di Sukabumi, Jawa Barat

Ciletuh Amphitheater, Warisan Geologi Purba di Sukabumi, Jawa Barat

Geopark

Festival Danau Toba, Sebuah Perpaduan Alam dan Tradisi Budaya Batak

Festival Danau Toba, Sebuah Perpaduan Alam dan Tradisi Budaya Batak

Festival Budaya

Festival Lembah Baliem, Atraksi Budaya Suku-Suku dari Pegunungan Papua

Festival Lembah Baliem, Atraksi Budaya Suku-Suku dari Pegunungan Papua

Festival Budaya

Merawat Tradisi Sakralnya Kirab Malam 1 Suro di Surakarta

Merawat Tradisi Sakralnya Kirab Malam 1 Suro di Surakarta

Peristiwa

Kisah Sukses Pengembangan Pariwisata Desa Wisata Ponggok Klaten

Kisah Sukses Pengembangan Pariwisata Desa Wisata Ponggok Klaten

Desa Wisata

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua