Ketika berbicara tentang warisan budaya di Dataran Prambanan, perhatian banyak orang biasanya langsung tertuju pada megahnya Candi Prambanan atau kemegahan Candi Borobudur yang berada tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut. Namun, di sebelah utara kompleks Prambanan berdiri sebuah situs arkeologi yang tidak kalah penting dalam sejarah peradaban Jawa Kuno, yaitu Candi Sewu.
Meski namanya berarti seribu, kompleks ini sebenarnya tidak terdiri atas seribu bangunan. Nama Sewu berasal dari tradisi dan legenda masyarakat setempat yang kemudian melekat hingga sekarang. Dalam kenyataannya, kompleks ini terdiri atas satu candi utama yang dikelilingi ratusan candi pendamping, menjadikannya salah satu kompleks percandian Buddha terbesar yang pernah dibangun di Nusantara. Bahkan, Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Borobudur.
Lokasinya berada sekitar 800 meter di sebelah utara kompleks Candi Prambanan, tepatnya di wilayah perbatasan antara Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedekatan geografis antara Candi Sewu dan Prambanan sering menimbulkan pertanyaan menarik mengenai hubungan antara agama Buddha dan Hindu di Jawa pada masa lalu. Keberadaan kedua kompleks besar tersebut dalam satu kawasan justru menunjukkan bahwa kedua tradisi keagamaan pernah berkembang secara berdampingan di pusat Kerajaan Mataram Kuno.
Di balik kemegahan arsitekturnya, Candi Sewu menyimpan kisah panjang mengenai perkembangan agama Buddha Mahayana, kekuasaan Dinasti Syailendra, serta perjalanan sejarah Jawa yang berlangsung lebih dari seribu tahun lalu. Kompleks ini bukan sekadar peninggalan arkeologi, melainkan salah satu bukti penting kejayaan peradaban Nusantara pada abad ke-8 dan ke-9.
Dibangun pada Masa Kejayaan Buddha Mahayana
Informasi mengenai sejarah awal Candi Sewu berasal dari sejumlah prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut, terutama Prasasti Kelurak bertarikh 782 Masehi dan Prasasti Manjusrigrha bertarikh 792 Masehi. Berdasarkan prasasti-prasasti tersebut, para arkeolog meyakini bahwa nama asli kompleks ini bukanlah Sewu, melainkan **Manjusrigrha**, yang berarti “Rumah Manjusri”. Manjusri adalah seorang bodhisattwa yang melambangkan kebijaksanaan dalam tradisi Buddha Mahayana.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB