Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Kalimantan Selatan
»
Geoheritage


Geopark Meratus, Menyusuri Jejak Purba Pegunungan Tertua di Kalimantan

Foto: Geopark yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark ini menjadi rumah bagi hamparan ofiolit (kerak samudera) tertua di Indonesia yang berumur hingga 200 juta tahun.
Warta Konsumen Indonesia
Penulis: Joko Yuwono

Hulu Sungai Selatan, Indonesianer.com — Geopark Meratus adalah kawasan taman bumi (geopark) yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, yang berpusat pada Pegunungan Meratus. Kawasan ini secara resmi diakui sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2025 dan merupakan geopark pertama di pulau Kalimantan.

Di tengah hamparan hutan tropis Kalimantan Selatan, membentang sebuah kawasan yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi selama ratusan juta tahun. Kawasan itu adalah Geopark Meratus, sebuah wilayah yang tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memikat, tetapi juga menyimpan warisan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati yang sangat berharga. Bagi banyak orang, nama Meratus mungkin lebih dikenal sebagai rangkaian pegunungan yang membelah Kalimantan Selatan dari utara hingga selatan. Namun di balik deretan perbukitan hijau tersebut, tersimpan cerita tentang proses pembentukan bumi yang jauh lebih tua dibandingkan sebagian besar bentang alam lain di Indonesia.

Geopark Meratus resmi menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Pengakuan internasional ini menempatkan Meratus sejajar dengan sejumlah geopark penting dunia yang memiliki nilai geologi luar biasa dan dikelola dengan prinsip konservasi serta pembangunan berkelanjutan. Status tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan pengakuan bahwa kawasan Meratus merupakan salah satu laboratorium alam penting yang mampu menjelaskan sejarah panjang evolusi bumi di kawasan Asia Tenggara.

Berbeda dengan banyak geopark lain di Indonesia yang identik dengan gunung api, Meratus menawarkan kisah geologi yang berbeda. Pegunungan Meratus terbentuk melalui proses tektonik yang sangat kompleks sejak ratusan juta tahun lalu. Berbagai jenis batuan yang ditemukan di kawasan ini menjadi bukti perjalanan panjang kerak bumi yang mengalami pengangkatan, pelipatan, dan perubahan akibat pergerakan lempeng tektonik. Karena itulah, para ahli geologi memandang Meratus sebagai salah satu kawasan paling penting untuk memahami sejarah geologi Pulau Kalimantan.

Namun Geopark Meratus bukan hanya tentang batuan dan pegunungan. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi hutan hujan tropis yang masih relatif terjaga, sungai-sungai yang mengalir membelah lembah, air terjun yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, serta masyarakat adat yang telah hidup berdampingan dengan alam selama berabad-abad. Perpaduan antara kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal inilah yang menjadikan Meratus sebagai salah satu destinasi paling menarik untuk dijelajahi di Kalimantan.

Pegunungan Purba yang Menyimpan Sejarah Bumi

Ketika berbicara tentang Geopark Meratus, hal pertama yang membuat kawasan ini istimewa adalah usia geologinya. Pegunungan Meratus merupakan salah satu bentang alam tertua di Kalimantan. Batuan-batuan yang ditemukan di kawasan ini berasal dari berbagai periode geologi yang berbeda, mencerminkan proses pembentukan bumi yang berlangsung selama ratusan juta tahun.

Para ahli menemukan bahwa sebagian batuan di Meratus berasal dari kerak samudra purba yang pernah berada jauh di bawah laut. Melalui proses tektonik yang panjang, batuan tersebut terangkat ke permukaan dan menjadi bagian dari pegunungan yang kini membentang di Kalimantan Selatan. Fenomena ini menjadikan Meratus sebagai kawasan yang sangat penting bagi penelitian geologi karena mampu memberikan gambaran mengenai dinamika bumi pada masa lampau.

Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah keberagaman bentuk lahannya. Dari kejauhan, Pegunungan Meratus tampak seperti deretan bukit hijau yang tidak terlalu tinggi. Namun ketika memasuki kawasan tersebut, pengunjung akan menemukan lanskap yang jauh lebih kompleks. Lembah-lembah sempit, tebing batuan, sungai berbatu, hingga kawasan karst membentuk panorama yang sangat beragam.

Keindahan alam Meratus juga diperkaya oleh banyaknya air terjun yang tersebar di berbagai lokasi. Sebagian besar air terjun ini berada di tengah kawasan hutan dan masih relatif alami. Air yang mengalir jernih dari pegunungan menciptakan suasana yang tenang sekaligus menyegarkan. Beberapa air terjun bahkan menjadi tujuan favorit wisatawan yang ingin menikmati alam Kalimantan yang masih asri.

Selain itu, kawasan Meratus juga memiliki sejumlah gua dan bentang alam karst yang menarik untuk diteliti. Proses pelarutan batuan kapur selama jutaan tahun telah membentuk rongga-rongga alami yang menjadi bagian dari sistem geologi kawasan. Gua-gua tersebut tidak hanya penting dari sisi ilmiah, tetapi juga menjadi habitat berbagai spesies satwa yang bergantung pada lingkungan bawah tanah.

Kekayaan geologi Meratus tidak dapat dipisahkan dari keanekaragaman hayatinya. Hutan hujan tropis yang menutupi sebagian besar kawasan menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna khas Kalimantan. Di beberapa wilayah, masih dapat ditemukan satwa liar seperti bekantan, rusa, trenggiling, hingga berbagai jenis burung endemik yang hidup di kanopi hutan. Keberadaan satwa tersebut menunjukkan bahwa sebagian ekosistem Meratus masih mampu mempertahankan fungsi ekologisnya dengan baik.

Bagi pecinta alam, perjalanan menyusuri Meratus menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan destinasi pegunungan lain di Indonesia. Tidak ada gunung berapi aktif atau kawah besar yang menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, daya tarik Meratus terletak pada lanskap purba yang terbentuk perlahan selama jutaan tahun dan tetap bertahan hingga sekarang. Setiap bukit, lembah, dan aliran sungai menjadi bagian dari cerita panjang tentang perubahan bumi yang berlangsung jauh sebelum manusia hadir di kawasan ini.

Harmoni Alam dan Budaya di Jantung Kalimantan Selatan

Selain kekayaan alamnya, Geopark Meratus juga memiliki nilai budaya yang sangat kuat. Kawasan ini merupakan tempat hidup berbagai komunitas masyarakat adat yang telah lama berinteraksi dengan lingkungan pegunungan. Salah satu yang paling dikenal adalah masyarakat Dayak Meratus yang mendiami sejumlah wilayah di sepanjang pegunungan tersebut.

Masyarakat Dayak Meratus memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam. Hutan, sungai, dan pegunungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian penting dari identitas budaya mereka. Pengetahuan tradisional mengenai pengelolaan hutan, pertanian, hingga pemanfaatan sumber daya alam diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu alasan mengapa banyak kawasan di Meratus tetap terjaga hingga saat ini.

Kehidupan masyarakat adat di Meratus juga memperlihatkan bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Sistem pertanian tradisional yang mereka jalankan umumnya disesuaikan dengan kondisi alam setempat. Berbagai ritual dan tradisi budaya pun masih dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Bagi wisatawan, keberadaan masyarakat adat memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki banyak destinasi lain. Perjalanan ke Meratus tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk mengenal budaya lokal yang masih hidup dan berkembang. Pengunjung dapat melihat rumah-rumah tradisional, mengenal berbagai kearifan lokal, serta memahami cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan wisata berbasis geopark mulai menjadi salah satu fokus utama di kawasan Meratus. Konsep ini menggabungkan wisata alam, edukasi geologi, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal dalam satu kesatuan. Tujuannya bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark membuka peluang besar bagi Meratus untuk dikenal lebih luas di tingkat internasional. Namun di sisi lain, status tersebut juga membawa tanggung jawab besar untuk menjaga warisan alam dan budaya yang ada. Peningkatan jumlah wisatawan harus diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan agar kawasan ini tidak mengalami tekanan lingkungan yang berlebihan.

Tantangan lain yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan konservasi. Sebagai kawasan yang kaya sumber daya alam, Meratus memiliki nilai ekonomi yang besar. Namun keberlanjutan kawasan ini sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya dilakukan secara bijaksana dan tidak merusak fungsi ekologis yang telah terbentuk selama jutaan tahun.

Pada akhirnya, Geopark Meratus adalah lebih dari sekadar destinasi wisata. Ia merupakan arsip alami yang merekam sejarah panjang bumi, rumah bagi keanekaragaman hayati Kalimantan, serta ruang hidup bagi masyarakat yang menjaga tradisi dan kearifan lokalnya hingga hari ini. Menjelajahi Meratus berarti menyaksikan bagaimana alam, budaya, dan sejarah geologi berpadu dalam satu lanskap yang luar biasa.

Di tengah pesatnya perubahan dunia modern, keberadaan Geopark Meratus menjadi pengingat bahwa ada warisan alam yang nilainya jauh melampaui keindahan visual semata. Kawasan ini mengajarkan bahwa pegunungan, hutan, sungai, dan budaya lokal merupakan bagian dari satu kesatuan yang saling mendukung. Dengan segala keunikan yang dimilikinya, Meratus tidak hanya menjadi kebanggaan Kalimantan Selatan, tetapi juga salah satu warisan geologi dan budaya paling berharga yang dimiliki Indonesia.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Menyelami Adat dan Budaya Bengkulu, Harmoni Tradisi dan Kehidupan Masyarakat

Menyelami Adat dan Budaya Bengkulu, Harmoni Tradisi dan Kehidupan Masyarakat

Tradisi 13 Jul 2026, 12:55 WIB

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Pilihan Redaksi

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Baca Juga

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Berita Lainnya

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua